MAGETAN | NARASINFO.ID – Kepala SMAN 1 Kawedanan, Dasar Darminto, S.Pd, menegaskan bahwa kabar adanya pungutan liar (pungli) sebesar Rp400 ribu untuk kegiatan Hari Ulang Tahun (HUT) sekolah adalah tidak benar atau hoaks.
“Kabar tersebut tidak benar. Tidak ada iuran HUT sebesar Rp400 ribu. Itu murni berita bohong,” tegas Dasar Darminto, Senin (13/10/2025).
Menurutnya, isu yang mengaitkan antara iuran HUT dengan pembagian kartu ujian juga tidak berdasar. Pihak sekolah memastikan seluruh siswa telah mengikuti ujian tengah semester dan menerima kartu ujian tanpa dipungut biaya apa pun.
“Kalau ada yang bilang siswa yang tidak bayar iuran HUT tidak diberi kartu ujian, itu fitnah. Logika berpikirnya sudah terbalik,” ujarnya menegaskan.
Kegiatan HUT Didukung Sponsor dan Guru
Lebih lanjut, Dasar Darminto menjelaskan bahwa seluruh rangkaian kegiatan HUT sekolah, termasuk jalan santai, tidak dibiayai dari pungutan siswa. Dana kegiatan bersumber dari dukungan sponsor serta partisipasi para guru dan tenaga kependidikan.
“Setiap guru menyumbang tiga hadiah hiburan sebagai bentuk dukungan dan kebersamaan. Semua kegiatan berjalan transparan dan partisipatif,” imbuhnya.
Wayangan dan Dzikir dari Siswa, Bukan Dalang Luar
Terkait gelaran wayangan dalam perayaan HUT, Dasar menjelaskan bahwa acara tersebut tidak melibatkan dalang profesional dari luar daerah. Seluruh pengisi acara, mulai dari dalang, sinden, hingga penabuh gamelan, merupakan siswa SMAN 1 Kawedanan sendiri.
“Ini bukan pertunjukan komersial. Justru ajang apresiasi bagi siswa yang memiliki bakat seni. Semua pembiayaan berasal dari sponsor dan pihak biro,” jelasnya.
Sementara untuk kegiatan dzikir dan Maulidurrasul, dana kegiatan diperoleh dari “amplop kirim doa” yang dikumpulkan secara sukarela oleh guru dan tenaga kependidikan. Acara tersebut dihadiri guru, siswa, orang tua, dan tamu undangan — tanpa pungutan biaya kepada siswa.
Imbauan Agar Publik Cerdas Menyikapi Informasi
Pihak sekolah mengimbau masyarakat untuk tidak mudah mempercayai kabar yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Dasar Darminto menegaskan, klarifikasi langsung dari sumber resmi harus menjadi acuan sebelum menyebarkan informasi.
“Kami berharap masyarakat bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi. Sekolah selalu terbuka terhadap kritik dan klarifikasi,” pungkasnya.
