Riyono Dorong Pranatacara Jadi Peluang Ekonomi Kreatif di Magetan

MAGETAN | NARASINFO.ID – Kemampuan menjadi pranatacara atau pembawa acara berbahasa Jawa tidak hanya berkaitan dengan upaya menjaga tradisi. Di Kabupaten Magetan, keterampilan tersebut mulai diarahkan menjadi kompetensi yang memiliki nilai ekonomi sekaligus membuka peluang profesi bagi masyarakat.

Hal itu mengemuka dalam HUT ke-4 Paguyuban Pranatacara Kabupaten Magetan dan Wisuda Pasinaon Pranatacara Bergada 3 yang digelar di Plaza Ndoyo, Sabtu malam (19/9/2026). Anggota DPR RI Fraksi PKS, Riyono, yang hadir dalam kegiatan tersebut, melihat kemampuan pranatacara berbahasa Jawa memiliki potensi untuk dikembangkan lebih luas.

Menurut Riyono, kebutuhan terhadap jasa pembawa acara cukup besar karena hampir setiap kegiatan masyarakat membutuhkan peran MC. Mulai dari acara pernikahan, wisuda hingga berbagai kegiatan sekolah, semuanya membutuhkan pembawa acara yang mampu mengatur jalannya kegiatan dengan baik.

“Setiap kegiatan ngantenan, wisuda, mungkin kegiatan-kegiatan sekolah, itu selalu menggunakan MC. Apalagi MC yang berbahasa Jawa, tentu cocok dengan masyarakat Magetan,” tuturnya.

Karena itu, Riyono menilai para peserta yang telah menyelesaikan Pasinaon Pranatacara tidak sekadar memperoleh kemampuan berbahasa Jawa. Mereka juga memiliki keterampilan khusus yang dapat dimanfaatkan untuk mengambil peluang di tengah kebutuhan masyarakat.

Di sisi lain, ia mengapresiasi langkah Pemerintah Kabupaten Magetan melalui pelatihan pranatacara berbahasa Jawa. Menurutnya, pembelajaran tersebut memiliki nilai penting karena peserta tidak hanya mempelajari bahasa, tetapi juga tata krama dan etika atau unggah-ungguh dalam budaya Jawa.

“Saya senang dengan acara wisuda Pasinaon Pranatacara yang dilaksanakan di Kabupaten Magetan bersama teman-teman Dinas Pariwisata dan Pak Kadis. Ini bagian dari cara untuk melestarikan budaya Jawa,” ujar politisi yang akrab disapa Riyono Caping tersebut saat diwawancarai di lokasi acara.

Riyono melihat pengembangan kemampuan pranatacara dapat memberikan manfaat dalam tiga aspek sekaligus. Selain menjaga keberlangsungan budaya Jawa, keterampilan tersebut dapat menjadi bagian dari pengembangan ekonomi kreatif serta memperkaya khazanah budaya di Kabupaten Magetan.

“Filosofinya ada tiga. Yang pertama melestarikan budaya Jawa, yang kedua membuka peluang ekonomi kreatif, dan yang ketiga meramaikan khazanah budaya di Kabupaten Magetan,” tegasnya.

Untuk memperkuat proses belajar dan regenerasi pelaku budaya, Riyono juga menawarkan fasilitas Joglo Sedulur Mas Riyono sebagai tempat kegiatan maupun pelatihan tanpa biaya.

“Kalau ada yang mau belajar atau mengadakan pelatihan di Joglo, nanti saya fasilitasi. Kalau mau wisuda juga boleh. Silakan, kita fasilitasi di Joglo Sedulur Mas Riyono sebagai bagian dari dukungan untuk melestarikan budaya Jawa,” imbuh Riyono.

Dukungan tersebut diharapkan dapat memberi ruang bagi para peserta untuk terus mengembangkan kemampuan setelah menyelesaikan pendidikan pranatacara. Dengan semakin banyak masyarakat yang memiliki kompetensi tersebut, budaya Jawa di Magetan diharapkan tetap hidup dalam berbagai kegiatan masyarakat sekaligus memberikan peluang ekonomi bagi para pelakunya. (Red)