MAGETAN | NARASINFO.ID – Tradisi budaya masih lestari di tengah arus modernisasi. Salah satunya adalah tradisi pecah kambil yang dapat dijumpai di Desa Bogoarum, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan.
Empat hari sebelum acara pernikahan atau mantu, para lelaki di desa ini berkumpul dan bekerja sama untuk melaksanakan tradisi pecah kambil atau memecah kelapa. Kegiatan ini dilakukan sebagai bagian dari prosesi pembuatan jenang.
Jenang merupakan bubur manis khas Jawa yang disiapkan sebagai simbol doa restu dan keberkahan. Menariknya, proses awal pembuatan jenang ini sepenuhnya dilakukan oleh kaum pria. Setelah kelapa dikupas dan dipecah, barulah para ibu mulai memarut dan mengolahnya.
Kegiatan pecah kambil biasanya berlangsung di halaman rumah mempelai. Suasana akrab, canda tawa, dan kebersamaan menjadikan tradisi ini lebih dari sekadar rutinitas menjelang mantu. Selain itu, tradisi ini juga menjadi ajang silaturahmi dan mempererat solidaritas antarwarga.
“Tradisi pecah kambil ini sudah turun-temurun. Biasanya dilakukan H-4 sebelum mantu. Setelah kelapa dipecah, ibu-ibu langsung memarut dan mengolahnya menjadi jenang,” ujar Khoirudin, warga Bogoarum yang sedang mempersiapkan pernikahan anaknya, Rabu (18/6/2025).
Jenang hasil gotong royong ini nantinya dibagikan kepada tetangga, kerabat, dan para tamu undangan. Tujuannya adalah sebagai bentuk rasa syukur serta permohonan doa restu. Selain itu, jenang juga sering dikirim kepada keluarga jauh sebagai bentuk undangan tidak langsung.
Tradisi pecah kambil bukan sekadar ritual menjelang pernikahan. Tradisi ini juga mencerminkan kekompakan warga dalam menyukseskan hajatan. Di tengah kehidupan modern yang serba praktis, masyarakat Desa Bogoarum tetap menjaga nilai-nilai kebersamaan.
“Semoga tradisi seperti ini tetap lestari. Bukan hanya soal jenang atau mantu, tapi ini tentang kebersamaan dan gotong royong yang mulai langka di tempat lain,” tambah Khoirudin.
Dengan menjaga tradisi pecah kambil, warga Desa Bogoarum membuktikan bahwa kearifan lokal bisa hidup berdampingan dengan perkembangan zaman. Setiap acara mantu bukan hanya menjadi momen sakral, tetapi juga sarat akan nilai budaya dan kekeluargaan.(Red)
