Dinkes Ngawi Tangani Enam Kasus Positif Leptospirosis

NGAWI | NARASINFO.ID – Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi mengintensifkan penanganan dan penyelidikan epidemiologi setelah enam warga dinyatakan positif leptospirosis selama periode Februari hingga awal Mei 2026.

Kasus leptospirosis di Ngawi tersebut tersebar di sejumlah kecamatan. Masing-masing satu kasus ditemukan di Kecamatan Ngrambe, Sine, Tambakboyo, dan Mantingan. Sementara dua kasus lainnya berasal dari Kecamatan Karanganyar.

Pengelola Program Zoonosis Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Ngawi, Anang Ristanto, mengatakan seluruh pasien telah dipastikan terinfeksi bakteri Leptospira berdasarkan hasil pemeriksaan medis.

“Seluruhnya dinyatakan positif leptospirosis,” ujar Anang, Kamis (7/5/2026).

Sebagai langkah penanganan, Dinkes Ngawi bersama jajaran puskesmas langsung menerjunkan petugas kesehatan ke wilayah terdampak untuk melakukan penyelidikan epidemiologi. Kegiatan tersebut dilakukan guna mengetahui sumber penularan, aktivitas warga yang berisiko, hingga lingkungan yang diduga terkontaminasi bakteri penyebab leptospirosis.

Selain melakukan pelacakan kasus, petugas kesehatan juga memberikan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat terkait bahaya leptospirosis serta upaya pencegahannya.

“Saat penyelidikan kami juga memberikan sosialisasi kepada masyarakat, karena masih ada warga yang belum memahami penyakit ini,” katanya.

Leptospirosis merupakan penyakit infeksi yang ditularkan melalui bakteri yang terdapat pada urine hewan, terutama tikus. Penularan dapat terjadi ketika bakteri masuk ke tubuh melalui luka terbuka maupun kontak langsung dengan air dan tanah yang telah terkontaminasi.

Dinkes Ngawi mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama apabila mengalami gejala seperti demam tinggi mendadak, sakit kepala berat, nyeri otot khususnya di bagian betis, hingga mata dan kulit menguning. Warga yang mengalami gejala tersebut diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat agar mendapat penanganan lebih cepat.

Sebagai langkah pencegahan, masyarakat juga diminta menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), khususnya bagi kelompok rentan seperti petani dan peternak.

Petani diimbau menutup luka sebelum beraktivitas di sawah, sedangkan peternak diminta rutin menjaga kebersihan kandang guna mengurangi risiko penyebaran bakteri leptospira di lingkungan sekitar.

Dinkes Ngawi memastikan pemantauan dan edukasi kepada masyarakat akan terus dilakukan guna mencegah munculnya tambahan kasus leptospirosis di wilayah setempat. (Rit/ADV)