MAGETAN | NARASINFO.ID – Tak banyak yang tahu, di balik kesederhanaannya, Sugito (62), warga Desa Banyudono Kabupaten Magetan, pernah mewakili daerahnya dalam ajang olahraga dirgantara tingkat nasional.
Dulu, Sugito akrab dengan langit. Ia merupakan satu-satunya warga sipil dari Saka Dirgantara Pramuka yang lulus pelatihan gantole bersama Elang Club Lanud Iswahjudi, dan kemudian dikirim mengikuti Kejurnas Gantole di Bukit Kaweng Sulawesi Utara tahun 1988.

“Saya belum pernah naik pesawat, tapi sudah bisa terbang pakai gantole. Rasanya luar biasa,” kenang Sugito dengan senyum tipis.
Berbekal semangat dan latihan bersama para penerbang militer, Sugito turut mengharumkan nama Magetan. Sayangnya, olahraga gantole yang membutuhkan biaya besar dan peralatan khusus itu tak mendapat dukungan berkelanjutan dari daerah. Lambat laun, kegiatan itu mati suri.
Sugito yang sempat menjadi pelatih pun akhirnya menepi dari dunia yang pernah mengudara bersamanya. Kini, hidupnya dijalani dengan merawat beberapa ekor kambing di kandang sederhana miliknya.
Ironis, semua piagam dan dokumen prestasinya hangus dalam kebakaran rumah yang menimpanya beberapa tahun lalu. Tak ada lagi jejak fisik masa kejayaan Sugito, kecuali kenangan yang ia simpan erat dalam ingatan.
Meski begitu, ia masih menyimpan harapan untuk melihat olahraga gantole bangkit kembali di Magetan.
“Magetan itu punya banyak tempat bagus buat terbang. Gunung Blego, Gunung Bungkuk, bahkan Lanud Iswahjudi. Sayang kalau dibiarkan begitu saja. Saya ingin ada anak-anak muda yang bisa terbang lebih tinggi dari saya,” ujarnya penuh harap.
Bagi Sugito, meski kini kakinya menapak di tanah dan bukan lagi mengudara, semangat untuk melihat Magetan kembali terbang tetap membubung tinggi setinggi mimpi-mimpi yang tak pernah padam di dalam hatinya.
