JAKARTA | NARASINFO.ID – Anggota Komisi IV DPR RI, Riyono, mendesak pemerintah dan Perum Bulog untuk mempercepat penyaluran cadangan beras pemerintah setelah terungkap adanya sekitar 90 ribu ton beras dalam stok Bulog yang dilaporkan mengalami kerusakan dan tidak layak konsumsi. Menurutnya, temuan tersebut harus menjadi perhatian serius agar kualitas bantuan pangan yang diterima masyarakat tetap terjaga.
Sorotan tersebut mengemuka dalam Rapat Kerja (Raker) dan Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi IV DPR RI bersama Kementerian Pertanian (Kementan) dan Badan Pangan Nasional (Bapanas). Pembahasan mengenai kualitas stok beras pemerintah juga mendapat perhatian publik menyusul mencuatnya kasus beras bantuan pangan di Bangkalan, Madura.
Riyono menegaskan bahwa bantuan pangan merupakan bentuk kehadiran negara bagi masyarakat yang membutuhkan, sehingga kualitas beras yang disalurkan tidak boleh diabaikan.
“Bantuan pangan adalah bentuk hadirnya negara kepada rakyat kecil. Kehadirannya harus menggembirakan dan membantu rakyat. Beras sebagai kebutuhan pokok harus berkualitas prima. Tidak boleh ada bantuan pangan yang rusak atau tidak layak diberikan kepada masyarakat,” ujar Riyono.
Berdasarkan paparan Kementerian Pertanian dalam rapat tersebut, per 9 Juni 2026 terdapat sekitar 90 ribu ton beras di gudang Bulog yang mengalami penurunan kualitas sehingga tidak layak untuk dikonsumsi. Kondisi tersebut diduga dipengaruhi oleh lamanya masa penyimpanan, kualitas beras saat masuk gudang, serta faktor pengelolaan stok.
Di sisi lain, Riyono menilai kondisi cadangan beras pemerintah saat ini berada pada level yang sangat memadai. Stok beras nasional yang tersimpan di gudang Bulog tercatat mencapai sekitar 5,3 juta ton dan dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan Cadangan Pangan Pemerintah maupun program bantuan pangan.
“Stok beras nasional di gudang sudah bagus, mencapai 5,3 juta ton. Persediaan ini melimpah dan cukup untuk Cadangan Pangan Pemerintah. Saatnya segera dikeluarkan dan disalurkan untuk bantuan pangan. Jangan terlalu lama disimpan karena berpotensi menimbulkan persoalan kualitas,” katanya.
Dalam kegiatan pengawasan yang dilakukannya di Gudang Bulog Ngawi beberapa waktu lalu, Riyono menemukan adanya kelelawar dan serangga kecil di area penyimpanan beras. Berdasarkan penjelasan pihak Bulog, kondisi tersebut menunjukkan perlunya perawatan berkala, termasuk melalui fumigasi, guna menjaga kualitas komoditas yang disimpan.
Menurut Riyono, hasil pengawasan tersebut menjadi pengingat bahwa pengelolaan cadangan beras pemerintah harus dilakukan secara disiplin dan sesuai standar operasional prosedur (SOP).
“Pengawasan di Gudang Bulog Ngawi memberikan gambaran bahwa manajemen pengelolaan beras harus dilakukan secara ketat. Jangan sampai ada keterlambatan maupun kelalaian dalam menjalankan SOP yang telah ditetapkan,” tegasnya.
Ia juga meminta agar penyaluran bantuan pangan beras untuk masyarakat kategori kurang mampu periode Februari–Maret 2026 dapat dituntaskan sesuai target pada Juni 2026. Selain itu, Riyono menegaskan bahwa setiap beras yang disalurkan kepada masyarakat harus dipastikan dalam kondisi layak konsumsi dan memenuhi standar kualitas.
“Pastikan beras Bulog yang disalurkan benar-benar layak konsumsi dan berkualitas. Jika ada yang kualitasnya kurang baik, jangan diberikan kepada rakyat. Apabila terlanjur disalurkan, maka wajib diganti. Jangan sampai ada kesalahan dalam pelayanan kepada rakyat,” pungkas Riyono. (Red)
