MAGETAN | NARASINFO.ID – Puluhan anak muda dari berbagai daerah di wilayah eks-Keresidenan Madiun mengikuti Nyawiji Fest bertajuk “Tausyiah di Atas Awan” di kawasan Gunung Kendil, Taman Wisata Genilangit, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, Sabtu (9/5/2026).
Kegiatan tersebut menggabungkan aktivitas pendakian, outbound, dan kajian spiritual dengan latar panorama pegunungan di ketinggian sekitar 1.625 mdpl. Konsep itu menjadi daya tarik tersendiri bagi kalangan pelajar hingga mahasiswa yang mendominasi peserta.
Ketua Magetan Milenial sekaligus penanggung jawab kegiatan, Fadlil Wafa, mengatakan jumlah peserta yang hadir melampaui target panitia. Semula kegiatan hanya ditargetkan diikuti 50 orang, namun peserta yang hadir mencapai sekitar 80 orang.
“Peserta tidak hanya berasal dari Magetan, tetapi juga dari Ngawi, Ponorogo, hingga Madiun. Mayoritas masih pelajar SMA dan mahasiswa,” ujar Fadlil saat ditemui di lokasi kegiatan.
Menurutnya, tema “Tausyiah di Atas Awan” dipilih untuk menghadirkan suasana dakwah yang lebih dekat dengan generasi muda sekaligus memperkenalkan potensi wisata pegunungan di Magetan selain Telaga Sarangan.
Ia menilai kegiatan keagamaan dapat dikemas dengan pendekatan yang lebih terbuka melalui interaksi dengan alam dan aktivitas kebersamaan.
“Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya menikmati alam, tetapi juga mendapatkan ruang diskusi dan motivasi tentang peran anak muda dalam kehidupan sosial maupun spiritual,” katanya.
Berdasarkan pantauan di lokasi, peserta mulai berkumpul sejak pagi sebelum melakukan pendakian menuju puncak Gunung Kendil. Kegiatan tersebut didominasi peserta perempuan dengan persentase sekitar 65 persen dari total peserta.
Selain diikuti kalangan remaja dan mahasiswa, kegiatan itu juga melibatkan peserta lintas usia. Peserta termuda tercatat berusia 13 tahun, sementara peserta tertua mencapai 40 tahun.
Antusiasme peserta juga dirasakan oleh M. Farhan Sirojuddin (23), peserta asal Surabaya. Ia mengaku tertarik mengikuti kegiatan karena konsep yang ditawarkan berbeda dari agenda komunitas pada umumnya.
“Awalnya saya penasaran karena ada konsep tausyiah di atas gunung. Setelah ikut ternyata suasananya sangat menyenangkan. Bisa olahraga sambil menikmati pemandangan, lalu mendapatkan tausyiah yang membuat pikiran lebih tenang,” ungkapnya.
Meski menjadi penyelenggaraan perdana, panitia menilai kegiatan berjalan sukses dan mendapat respons positif dari peserta. Sejumlah peserta laki-laki bahkan mengusulkan lokasi pendakian yang lebih menantang untuk agenda berikutnya, seperti Gunung Mongkrang hingga Gunung Lawu.
Fadlil berharap Nyawiji Fest dapat berkembang menjadi agenda rutin yang mampu menjadi ruang kreativitas pemuda sekaligus memperkuat nilai spiritual melalui pendekatan wisata alam.
“Ke depan kami ingin kegiatan ini terus berkembang dengan konsep yang lebih menarik dan lokasi yang lebih menantang,” pungkasnya. (Red)
