MAGETAN | NARASINFO.ID – Asap tipis dari tungku kayu perlahan memenuhi dapur rumah sederhana milik Landep di Desa Banyudono, Kecamatan Ngariboyo, Kabupaten Magetan. Di lantai rumah yang mulai kusam dimakan waktu, perempuan renta itu duduk di depan nampan adonan sambil meremas bahan jajanan dengan tangan keriputnya yang masih bergerak cekatan.
Usianya telah menginjak 80 tahun. Namun sore itu, Landep atau yang biasa dipanggil Mbah Landep tetap sibuk menyiapkan jajanan kampung untuk dijual esok hari di pasar dekat rumahnya.
Sesekali perempuan tua itu menundukkan kepala, lalu membentuk adonan satu per satu sebelum meletakkannya di nampan plastik di samping tubuhnya. Aroma kayu bakar bercampur minyak goreng memenuhi ruangan kecil tempat ia memasak setiap hari.
“Kalau hanya diam di rumah malah badan rasanya sakit semua. Lebih enak bergerak dan jualan,” ucap Mbah Landep pelan.
Bagi sebagian orang seusianya, masa tua mungkin identik dengan istirahat dan menikmati hari bersama keluarga. Namun tidak bagi Mbah Landep. Berdagang telah menjadi bagian dari hidupnya sejak muda, jauh sebelum rambutnya memutih dan tenaganya tak lagi sekuat dulu.
Setiap hari, ia masih membuat sendiri berbagai jajanan khas kampung seperti timus, jemblem, gandos, hingga singkong goreng. Seluruh proses memasak tetap dilakukan menggunakan tungku kayu bakar yang dipertahankannya hingga kini.

Di saat jajanan instan semakin mudah ditemukan, Mbah Landep memilih tetap menjaga cara memasak dan cita rasa lama yang akrab bagi warga desa. Warga sekitar pun masih setia membeli dagangannya karena rasa rumahan yang sulit ditemukan di tempat lain.
Namun bagi Mbah Landep, berjualan bukan sekadar soal penghasilan.
Pasar kecil di dekat rumah menjadi ruang hidup yang membuat Mbah Landep merasa tetap berarti. Di tempat itu ia bercengkerama dengan warga, berbagi cerita, sekaligus mempertahankan kebiasaan yang telah dijalaninya selama puluhan tahun.
Anak-anaknya sebenarnya telah berkali-kali meminta agar dirinya berhenti berjualan. Faktor usia dan kondisi kesehatan membuat keluarga khawatir jika Ia terlalu lelah bekerja.
Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Beberapa waktu lalu, Mbah Landep sempat terpeleset hingga harus menjalani perawatan di rumah sakit. Namun setelah kembali ke rumah dan kondisi tubuhnya belum sepenuhnya pulih, perempuan tua itu diam-diam kembali berjalan ke pasar membawa dagangannya.
Bagi Mbah Landep, berhenti berjualan seperti kehilangan bagian dari hidup yang telah dijalaninya puluhan tahun.
“Kalau tidak jualan malah bingung mau apa,” katanya sambil tersenyum kecil.
Meski hidup dalam keterbatasan, Mbah Landep dikenal warga sebagai sosok yang gemar berbagi. Tidak jarang ia memberikan dagangannya secara cuma-cuma kepada pembeli yang tidak memiliki uang.
“Kadang kasihan kalau ada yang ingin tapi tidak punya uang,” ujarnya sederhana.
Mbah Landep kini memiliki enam anak dan enam buyut. Sebagian besar anaknya telah tinggal di luar kota bersama keluarga masing-masing, meski perhatian kepada sang ibu tetap terjaga dengan rutin membantu kebutuhan sehari-hari.
Saat ini, ia tinggal bersama anak bungsunya yang berjualan nasi goreng.
Di usia senjanya, langkah Mbah Landep memang tak lagi secepat dulu. Tubuhnya pun mulai rapuh dimakan usia. Namun semangat hidup perempuan tua itu masih menyala seperti api tungku kayu di dapurnya yang tak pernah benar-benar padam.
Menjelang malam, Mbah Landep kembali merapikan jajanan buatannya sebelum dibawa ke pasar kampung esok hari. Asap tipis masih mengepul dari tungku di sudut dapur, sementara tangan renta itu terus bekerja, seolah tak ingin kalah oleh usia. (Gus)
